Catatan Hijrahku (Part 2)

0 Comments




Oleh: Alif Shaleha

Remaja adalah masa-masa pencarian jati diri. Rasa penasaran yang besar membuatku dan teman-teman ingin melakukan banyak hal. Nongkrong di stasiun atau di warung mie ayam adalah hal favorit yang aku lakukan bersama teman-teman sepulang sekolah. Tidak sampai membolos dari sekolah. Karena bagaimanapun sekolah adalah hal utama bagiku. 

Pacaran, bukan hal yang tabu saat itu. Bukan pula perbuatan dosa yang harus dihindari menurut pemahamanku saat itu. Hampir tak ada yang jomblo. Karena jomblo dianggap gak laku. Nggak gaul. Nggak keren juga.  Aku memang tidak seperti teman-temanku yang lain. Yang pacaran dengan teman-teman satu sekolah. Makan bareng. Hang out bareng. Atau mojok berdua di kelas. Aku memilih pacaran lewat surat. LDR istilah kerennya. 
Aku tak pernah menganggap bahwa hal itu adalah kesalahan. Apalagi perbuatan maksiat. Berkerudung. Shalat lima waktu. Mengaji. Semua telah aku jalani. Karena yang aku pahami, Islam adalah shalat lima waktu. Islam seperti agama lain yang mengajarkan ibadah kepada Tuhannya. Tidak ada kewajiban untuk menggunakan hukum-hukum Islam dalam segala segi kehidupan. Asal sudah menjalankan shalat, kuanggap sudah menjalankan Islam dengan sempurna.

Juara satu adalah tujuan pertama. Prestasi dalam bidang akademik adalah hal utama. Itulah yang selalu kukejar dalam hidup. Cukuplah Islam dilaksanakan pada tataran individu semata. Hingga tibalah saatnya, aku lulus dari sekolah Menengah Umum dengan prestasi yang cukup membanggakan. Aku memilih ke Jogja untuk melanjutkan studiku. Bersama dengan sahabat karibku, aku masuk ke sebuah Perguruan Tinggi swasta.  Disinilah perjalanan hijrahku bermula.

Kuliah. Bertemu teman-teman baru. Aktivitas baru. Semua serba baru. Agar lebih gaul dan tidak terkesan udik, aku membeli beberapa celana jeans baru lengkap dengan baju Panjang dan kerudung. Maklum, sebelumnya aku tidak pernah pergi jauh, apalgi sampai ke luar kota. Segala kehidupan kampus aku ketahui dari cerita teman-teman yang memiliki saudara mahasiswa. Dari modal cerita inilah, aku mencoba merubah penampilanku supaya lebih gaul. Tapi tetap Islami.

Hingga suatu ketika aku bertemu dengan teman yang mengajakku untuk mengikuti kajian rutin. Tak kulewatkan kesempatan emas ini. Aku langsung mengiyakan saja ajakan temanku itu. Tanpa banyak tanya, aku mengikuti setiap kajian yang diadakan di kampus. Dan saking semangatnya, setiap ada yang mengajak untuk mengaji, aku iyakan saja. Namun lama kelamaan aku merasa tak nyaman dengan penampilanku. Aku mencoba untuk merubahnya lagi. 

Bersambung 


You may also like

Tidak ada komentar: