Sosok Kartini Tak Berkonde

0 Comments


Sebulan yang lalu, tepatnya bulan Maret perempuan Indonesia digiring untuk mengikuti peringatan “Hari Perempuan Internasional”. Saat ini, bulan April kembali perempuan Indonesia digiring untuk memperingati perayaan ‘Hari Kartini’. Berbabagi festival dan lomba dilakukan untuk memeperingati Hari Katini.

Pakaian khas Kartini dengan ‘kebaya dan konde’ menjadi ikon dalam perayaan ini. Tak ayal para ibu rela mengeluarkan kocek lebih dalam untuk tampil maksimal dalam mengikuti acara ini. Baik untuk dirinya sendiri atau untuk anak-anaknya yang masih sekolah. Meski tak sedikit anak-anak yang menolak untuk pakai kebaya dan konde, namun para ibu tetap memaksa anaknya.

Alasannya agar tampil cantik. Untuk mengenang jasa Kartini sebagai pahlawan bangsa. Untuk menghargai perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan. Dan semacamnya. Tapi benarkah cara seperti ini yang harus dilakukan untuk menghargai jasa Kartini sebagai Phalawan?

Mengenal R.A. Kartini

Kartini adalah putri seorang bangsawan tanah Jawa. Dibesarkan dengan Pendidikan Belanda. Pandai berbahasa Belanda dan dekat dengan Belanda. Lahir pada tanggal 21 April yang diperingati sebagai ‘Hari Kartini’ saat ini. Sahabat karibnya orang Belanda bernama Rosa Abendanon. Kartini sering berkorespondensi dengannya.

Dalam suratnya yang ditujukan kepada sahabat karibnya, ia mengatakan kecewa dengan nasib perempuan di Jawa yang Pendidikan dan status sosialnya rendah. Ia dinikahi oleh Bupati Rembang dan resmi menjadi istri ke-4.

Kartini tutup usia masih tergolong sangat muda. Yaitu pada usia 25 tahun. Cita-cita Kartini yang belum terwujud hingga akhir hayatnya adalah mendirikan sekolah wanita. Hingga 6 tahun pasca meninggalnya Kartini, Abendon mengumpulkan surat-surat Kartini yang pernah dikirimkan keppadanya. Membukukan dan menerbitkannya dengan judul “Door Duisternis tot Licht” yang diterjemahkan oleh Armyn Pane menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Meneladani Kartini tidak Harus Berkonde

Sebenarnya perjuangan Kartini bukanlah untuk memperjuangkan kesetaraan gender sebagaimana diperjuangkan oleh para feminis saat ini. Justru Kartini memperjuangkan Pendidikan bagi para wanita agar sejajar dengan kaum pria dalam hal kecerdasan. Bukan untuk menjadi pesaing laki-laki, namun untuk bekal melaksanakan tugas kodrati sebagai ibu dan sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Terlepas dari itu semua, meneladani sosok Kartini tidak harus melakukan aktivitas yang sia-sia. Berdandan ala Kartini dengan kebaya dan konde tidak cukup untuk meneladani Kartini. Harusnya yang perlu dicontoh dari seorang kartini adalah semangatnya untuk belajar dan mengejar Pendidikan agar kaum perempuan tidak bodoh dan terpinggirkan.

Pentingnya belajar ini sudah diajarkan oleh Islam jauh sebelum Kartini ada. Kewajiban menuntut ilmu, bukan menjadi tanggungjawab laki-laki saja. Namun wajib bagi setiap muslim termasuk perempuan. Hal ini telah dicontohkan dalam Islam.

Bukti nyata bahwa Islam mewajibkan menuntut ilmu bagi semua muslim bisa dilihat dari sosok istri Rasulullah SAW. Adalah Aisyah binti Abu Bakar Ash-shidiq seorang istri Rasulullah sekaligus putri dari sahabat tercinta Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-shidiq. Dari usia anak-anak sudah Nampak kecerdasannya. Beliau adalah sosok wanita mulia yang sangat pantas untuk menjadi teladan semua muslimah.

Kecerdasan beliau tidak diragukan lagi. beliau menjadi rujukan para shahabat ketika Rasulullah telah wafat. Beliau tercatat sebagai orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dan beberapa cabang ilmu. Diantaranya ilmu fikih, kesehatan, syair Arab.

Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sedangkan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Inilah teladan yang wajib diikuti oleh muslimah. Menuntut ilmu setinggi mungkin sebagai bekal hidup di dunia dan akherat. Agar tidak mudah terbawa arus menyesatkan seperti peringatan Hari Kartini yang hanya berupa kontes-kontes yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan.

Selain bertentangan dengan konsep berpakaian muslimah, kebaya dan konde sering kali diikuti dengan tabaruj yang dilarang dalam Islam. Andai dulu Kartini tamat mengaji, sudah pasti Dia akan berhijab sesuai dengan ajaran Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.



You may also like

Tidak ada komentar: