Oleh: Alif Shaleha

Kebisingan jalan tidak membuatku terganggu. Hatiku gundah. Resah dan gelisah. Kucoba pejamkan mata. Berharap ketika membukanya, aku sudah sampai terminal. Namun ketika aku membuka mata, aku masih berada di dalam bus kota. Kutengok papan reklame di pinggir jalan. Kucari-cari tulisan yang menunjukkan keberadaanku. Tertulis di salah satu papan “Cirobon”. Seketika mataku terbuka sempurna. Sebentar lagi aku nyampai rumah.

Hmmm, kuhembuskan nafas kuat-kuat. Berharap beban yang menghimpit ikut menguap bersama udara pernafasan. Sekali lagi ku buang nafas, namun rasa sesak ini tidak kunjung reda. Rasanya aku belum siap untuk kembali pulang. Apa nanti yang akan dikatakan oleh orang tua dan para tetangga?
Bisakah mereka menerima perubahanku ini, mengingat saat ini berjilbab masih asing di lingkunganku. Kalo sekedar menutup aurat dengan kerudung dan pakaian serba Panjang, dengan bentuk potongan sudah biasa. Tapi kalau jilbab? Belum ada. Orang hamil yang biasanya memakainya. Hufttt….

Setelah sampai di persimpangan Widasari, aku turun dari bus dan mencari angkutan umum menuju desaku. Tempat yang penuh kenangan bersama teman-teman SMA. Kendaraan yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bismilllah, semoga Allah memudahkan segalanya.

“Nok, wis tekan!” sapa sopir angkot yang aku tumpangi. Aku turun di depan gang menuju rumahku. Detak jantungku berdegup semakin kencang. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Kukuatkan tekadku. Melangkah dan terus menyusuri jalanan sempit yang dulu selalu aku lewati ketika pulang sekolah.

Terdengar bisik-bisik dari beberapa emak-emak yang biasa kumpul di depan warung. Kuabaikan saja perkataan mereka. Meski dalam hati ingin menangis. Ternyata aku belum siap untuk menerima hujatan dan sindiran dari orang lain. Kalau hanya dikatakan beda tidak masalah. Namun jika dikatakan hamil di luar nikah? Astaghfirullah… justru aku berubah untuk menghindari maksiat. Aku berjilbab supaya terjaga kehormatanku. Tapi… ah, sudahlah.

Aku masuk ke rumah kontrakan yang selama ini kami tempati. Setelah salamku terjawab, aku menghambur kepelukan ibu. Kangen sekali rasanya. Beberapa saat kami melepas rindu. Ibuku senang melihat kedatanganku. Makanan kesukaanku telah siap di meja makan. Kamar tidurkupun telah tertata rapi dan wangi. Alhamdulillah… akhirnya aku bisa kembali ke rumah ini.

Tanpa terasa aku terlelap di pembaringan sederhana ini. Meski tidak sebagus kamar kostku, namun aku selalu merasa nyaman tidur di sini. Entah sudah berapa lama aku terlelap. Ada belaian lembut kurasakan di kepalaku. Perlahan kubuka mataku. Meski berat, dan masih ingin kembali terpejam, namun aku paksakan untuk bangun demi memenuhi panggilan ibuku.

“Sudah bangun? Ayo mandi dulu trus makan. Sudah hampir maghrib!” kata ibuku sembari menatihku berdiri. Aku mengikutinya tanpa sepatah katapun. Segala rasa gundah yang berkecamuk telah menguap entah kemana. Aku tidak lagi takut bertemu ibuku. Bukan. Tapi lupa.

Selepas maghrib, kami berbincang-bincang di depan TV. Ibuku sangat antusias mendengarkan semua ceritaku. Tak lupa menanyakan perkembangan sakitku. Hingga akhirnya apa yang aku khawatirkan selama ini meluncur juga.

“Kenapa sekarang kamu pakai baju kayak orang hamil begitu? apa kamu tidak dengar sepanjang jalan yang kamu lewati tadi orang-orang membicarakanmu. Mereka mengira kamu hamil. Apa itu benar?”

Bersambung




Oleh: Alif Shaleha

Beberapa bulan aku tetap bertahan dengan dua jilbab. Hingga akhirnya aku memperoleh jilbab pemberian dari kakak seniorku. Alhamdulillah, bisa buat ganti. Aku merasa nyaman dengan jama’ah ini. Aku menjadi manusia yang berbeda dengan sebelumnya. Lebih bisa menghargai hidup. Memahami hakikat dan tujuan hidup ini. Namun, di tahun kedua aku hijrah bertepatan dengan semester 4, aku mulai mengalami sakit-sakitan. Prestasi mulai menurun. Tak seperti masa-masa sekolah dulu. kini aku lebih memilih untuk aktif di dalam dakwah daripada kuliah.

Imbasnya, aku lulus satu tahun lebih lama dari teman-teman seangkatanku. Yang lebih membuat perjuanganku terasa berat adalah sakit. Ya, aku berkali-kali masuk rumah sakit. Terdeteksi ada benjolan di payudaraku. Meski tidak diketahui apakah ganas atau jinak, namun hal itu cukup membuatku sedikit down. Hari-hariku disibukkan dengan kuliah, dakwah, dan terapi. Ternyata aku belum cukup kuat untuk menjalani ujian ini.

Teman-teman dan kakak-kakak senior selalu menyemangati. Tak henti mereka memotivasiku untuk tetap melanjutkan kuliah ini hingga selesai. Meski sakit, namun aku tetap bertahan. Kata-kata yang selalu melekat dalam ingatanku adalah: “Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kesanggupannya” itulah kalimat terindah yang selalu menjadi motivator dalam hidupku.
Aku yakin aku mampu. Aku yakin aku kuat. Mungkin Allah hendak menguji keimananku. Seberapa besar keimananku kepada-Nya. Alhamdulillah, aku sanggup menjalaninya. Ditengah kondisi yang lemah karena sakit. Aktivitas kuliah dan dakwah yang banyak, aku juga diuji dengan kesulitan ekonomi.

Keluargaku bukanlah dari golongan kaya. Berbeda dengan teman-teman satu kostku yang selalu tepat waktu dalam mendapatkan kiriman. Bisa membeli kebutuhan dengan mudah. Sedangkan aku? Kiriman yang tak tentu jumlahnya. Harus dibagi antara kebutuhan hidup, kebutuhan kuliah, transportasi dakwah, dan untuk pengobatan. Aku harus memutar otak untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Setidaknya untuk transport. Maka aku mencoba untuk membuat susu kedelai dan menjualnya.

Alhamdulillah. Bersama dengan kakak seniorku, aku memualai bisnis susu kedelai kecil-kecilan. Dari sini aku bisa mendapatkan pemasukan. Meski masih belum bisa mengcover semua kebutuhan, setidaknya ada tambahan. 

Tiba saatnya libur semester. Itu artinya aku harus pulang. Sudah beberapa semester semenjak aku mulai memakai jilbab, aku belum pernah pulang. Meski ortu selalu memintaku pulang, namun aku enggan melakukannya. Orang tuaku senang mendengar kepulanganku. Pasalnya semenjak aku berhijrah, aku tidak berani pulang. Aku takut orang tuaku tidak bisa menerima perubahanku. Aku butuh waktu untuk menyiapkan mental dan bekal ilmu untuk bertemu keluargaku. Hingga saatnya tiba.

Bersambung






Oleh: Alif Shaleha

Hidayah memang bisa datang kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Melalui siapa saja yang Allah kehendaki pula. Begitupun denganku. Melalui acara “rujak party” yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus di salah satu pantai yang ada di Jogjakarta, Allah memberikan hidayah-Nya untukku dan ketiga temanku lainnya.

Benar, jika dikatakan mahasiswa adalah masa-masa untuk melakukan banyak perubahan. Energi untuk melakukan perubahan memang sangat besar. Sehingga segala kegiatan kampus akan selalu diikutinya. Akupun tak mau ketinggalan. Apalagi jika berhubungan dengan yang Namanya “kajian”. Dimanapun berada, aku selalu mengikutinya. Maklumlah, semangat masih membara.

Hingga akhirnya aku menemukan satu jalan kebenaran. Dari dua kelompok kajian yang aku ikuti, ada beberapa perbedaan yang mencolok. Baik dari sisi fikrah dan thariqahnya. Hingga tiba saatnya aku harus memilih. Perang batin dimulai. Gejolak pemikiran mulai mengganggu. Kelompok mana yang harus aku ikuti.

Sekedar informasi, jika saat itu aku sudah mulai memahami perbedaan antara jilbab dan kerudung. Aku juga sudah mulai memahami jamaah dakwah seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jamaah inilah yang bisa memusakan akalku. Mampu menjawab setiap keingintahuanku. Bisa menentramkan jiwaku, serta sesuai dengan fitrah manusia. Di Jamaah satunya, aku tidak menemukannya. Namun aku mendapatkan ketenangan batin di sana. Namun akal tidak terpuaskan.
Fix. Aku memilih salah satu saja. Aku memilih untuk Jamaah yang mampu memuaskan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah manusia. Disini aku dapat paket komplit. Namun, sayangnya aku harus merubah penampilan lagi. Jika sebelumnya aku cukup menggunakan pakaian potongan dengan bentuk yang longgar dan tidak nerawang, dilengkapi dengan kerudung yang sangat besar. Kali ini aku harus menggunakan gamis. Pakaian Panjang yang tidak terpotong. Dan itulah yang disebut jilbab.

“Wahai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan mukmin, supaya mereka mengulurkan jilbab mereka keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenal dan tidak diganggu.” (QS. AL-Ahzab:59)

Ayat inilah yang dijadikan dalil kewajiaban mengenakan jilbab bagi muslimah. Kata jilbab menurut kamus Bahasa Arab adalah pakaian Panjang yang bentuknya seperti Lorong yang tidak terputus. Sementara kerudung, dalam Alquran dikatakan sebagai “khimar”. Dalilnya terdapat pada Alquran surat An-Nur ayat 31.

Dengan tekad yang kuat. Niat yang sudah terpatri, aku mengenakan jilbab. Namun saat itu aku hanya memiliki 2 buah. Sehingga aku harus memakainya secara bergantian. Sampai-sampai teman sekampusku banyak yang bertanya-tanya. Apa tidak punya pakaian lain, kok yang dipakai Cuma itu-itu aja.

Bersambung 





Oleh: Alif Shaleha

Remaja adalah masa-masa pencarian jati diri. Rasa penasaran yang besar membuatku dan teman-teman ingin melakukan banyak hal. Nongkrong di stasiun atau di warung mie ayam adalah hal favorit yang aku lakukan bersama teman-teman sepulang sekolah. Tidak sampai membolos dari sekolah. Karena bagaimanapun sekolah adalah hal utama bagiku. 

Pacaran, bukan hal yang tabu saat itu. Bukan pula perbuatan dosa yang harus dihindari menurut pemahamanku saat itu. Hampir tak ada yang jomblo. Karena jomblo dianggap gak laku. Nggak gaul. Nggak keren juga.  Aku memang tidak seperti teman-temanku yang lain. Yang pacaran dengan teman-teman satu sekolah. Makan bareng. Hang out bareng. Atau mojok berdua di kelas. Aku memilih pacaran lewat surat. LDR istilah kerennya. 
Aku tak pernah menganggap bahwa hal itu adalah kesalahan. Apalagi perbuatan maksiat. Berkerudung. Shalat lima waktu. Mengaji. Semua telah aku jalani. Karena yang aku pahami, Islam adalah shalat lima waktu. Islam seperti agama lain yang mengajarkan ibadah kepada Tuhannya. Tidak ada kewajiban untuk menggunakan hukum-hukum Islam dalam segala segi kehidupan. Asal sudah menjalankan shalat, kuanggap sudah menjalankan Islam dengan sempurna.

Juara satu adalah tujuan pertama. Prestasi dalam bidang akademik adalah hal utama. Itulah yang selalu kukejar dalam hidup. Cukuplah Islam dilaksanakan pada tataran individu semata. Hingga tibalah saatnya, aku lulus dari sekolah Menengah Umum dengan prestasi yang cukup membanggakan. Aku memilih ke Jogja untuk melanjutkan studiku. Bersama dengan sahabat karibku, aku masuk ke sebuah Perguruan Tinggi swasta.  Disinilah perjalanan hijrahku bermula.

Kuliah. Bertemu teman-teman baru. Aktivitas baru. Semua serba baru. Agar lebih gaul dan tidak terkesan udik, aku membeli beberapa celana jeans baru lengkap dengan baju Panjang dan kerudung. Maklum, sebelumnya aku tidak pernah pergi jauh, apalgi sampai ke luar kota. Segala kehidupan kampus aku ketahui dari cerita teman-teman yang memiliki saudara mahasiswa. Dari modal cerita inilah, aku mencoba merubah penampilanku supaya lebih gaul. Tapi tetap Islami.

Hingga suatu ketika aku bertemu dengan teman yang mengajakku untuk mengikuti kajian rutin. Tak kulewatkan kesempatan emas ini. Aku langsung mengiyakan saja ajakan temanku itu. Tanpa banyak tanya, aku mengikuti setiap kajian yang diadakan di kampus. Dan saking semangatnya, setiap ada yang mengajak untuk mengaji, aku iyakan saja. Namun lama kelamaan aku merasa tak nyaman dengan penampilanku. Aku mencoba untuk merubahnya lagi. 

Bersambung 

Oleh: Alif Shaleha

Lahir dari keluarga yang beragama Islam, tak membuatku langsung Islami. Sama halnya dengan teman-teman sebayaku, aku menjalani hari-hariku dengan sekolah, belajar, main, dan kumpul-kumpul bersama. Shalat lima waktu dikerjakan sekadarnya saja. Jika lagi rajin, maka genap 5 kali kujalani. Namun jika sudah asyik bersama teman-teman, shalat sering terlupakan.

Orang tua tak ada yang mengingatkan. Asal prestasi tak menurun, juara umum tetap di tangan, tak jadi soal meski kadang tak shalat. Pergi ke masjid? Jangan ditanya. Setiap maghrib dan isya selalu jamaah di masjid. Disambung dengan ngaji bersama. Bahkan ikut tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid (IRMABA).

Yang kuingat saat itu aku duduk di bangku SMP. Pergaulan dengan lawan jenispun tak ada batasan. Meski hanya kumpul-kumpul bersama, jalan-jalan dan semacamnya, namun sekarang aku paham bahwa perbuatan itu termasuk kamaksiatan. Nau’udzubillah.

Tiba waktu kelulusan SMP. Persiapan untuk melanjutkan SMA sudah dimulai. Aku memutuskan untuk menutup aurat. Belum sempurna. Hanya memakai pakaian serba panjang dan berkerudung. Saat itu memakai kerudung adalah hal yang istimewa. Bukan karena paham bahwa berkerudung adalah kewajiban setiap muslim. Hanya ingin saja. 

Jilbab. Saat itu aku menyebutnya demikian. Meski belakangan setelah mengkaji Islam akhirnya tahu bahwa jilbab dan kerudung tidaklah sama. Aku adalah satu-satunya gadis yang istiqamah berkerudung. Hingga akhirnya kedua orang tuaku memboyongku ke Kota. Tempat dimana kedua orang tuaku mengais rezeki. Disinilah perjalanan hijrahku dimulai. 

Bersambung 



Oleh: Alif Shaleha

Salah satu hasil  dari Forum Perdamaian Dunia (World Peace Forum/WPF) ke-7 adalah bekerja sama mengarusutamakan Jalan Tengah sebagai kerangka penuntun bagi peradaban dunia yang lebih baik. Komitmen tersebut tercantum dalam draf Pesan Jakarta.

 "Kami berkomitmen untuk bekerja sama untuk mengarusutamakan Middle Path (Jalan Tengah) sebagi konsep yang membimbing peradaban dunia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial budaya," kata Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja sama antar Agama Din Syamsudin saat membacakan draf Pesan Jakarta dalam konferensi pers WPF ke-7 di Jakarta, Kamis. 

Pesan Jakarta menyoroti bahwa peradaban dunia terus menghadapi krisis, seperti masalah kekurangan energi pangan, bencana lingkungan, degenerasi moral yang mengarah kepada ketiadaan perdamaian; ketidakadilan meluas; kemiskinan ekstrem; buta huruf yang belum terpecahkan; teologi egosentris; dan diskriminasi sosio-ekonomi, rasial, dan agama; yang semuanya dengan serius mengancam peradaban.

Dengan metode jalan tengah diharapkan mampu dijadikan sebagai pendekatan atau konsep yang mengandung nilai-nilai positif seperti toleransi, inklusivitas, keseimbangan dan keadilan yang menjadi solusi bagi krisis peradaban dunia. Dengan konsep Jalan Tengah, semua bangsa berusaha menciptakan peradaban dunia yang lebih adil, damai, dan harmonis. 

Jalan tengah atau kompromi adalah suatu tindakan untuk mencari solusi dari dua hal yang berseberangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kompromi adalah persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan: kedua kelompok yang berselisih itu diusahakan berdamai dengan jalan tengah atau istilah lainnya win win solution. 

Konsep jalan tengah lebih dahulu pernah dilakukan oleh bangsa Eropa. Peresteruan yang terjadi antara pihak gereja dengan raja dan pihak ilmuwan dan filsuf barat pada abad pertengahan sebelum terjadinya revolusi industri. Untuk menyatukan kedua belah pihak dalam satu titik temu, digagaslah jalan tengah (kompromi). Pihak gereja dan raja yang menjadikan agama sebagai legitimasi atas perbuatan mereka, sementara ilmuwan dan filsuf sebagai pihak yang menolak agama dalam urusan kehidupan. 

Akhirnya dibuatlah kesepakatan jalan tengah yang dianggap tidak merugikan kedua belah pihak. Mereka menyepakati bahwa agama hanya mengatur urusan ibadah individu, sementara untuk urusan publik (politik) agama tidak boleh ikut campur. Inilah yang disebut dengan sekularisme, yaitu suatu paham yang memisahkan agama dari kehidupan. 

Meski cikal bakal ide jalan tengah ini berasal dari barat, namun seiring dengan berjalannya waktu ide ini diadopsi di hampir seluruh negeri-negeri muslim. Termasuk Indonesia. Dimana agama hanya boleh mengatur masalah akidah dan ibadah semata. Sedangkan urusan muamalah dan pemerintahan menggunakan ide lain yang bukan berasal dari salah satu agamapun. 

 Tampaknya gagasan jalan tengah ini sudah mulai diarusutamakan secara massif. Pemerintah sendiri berupaya sekuat tenaga untuk menjadikan konsep ini berlaku di negeri ini. Yang lebih nyata adalah agama Islam yang dijadikan sebagai objek untuk mengaplikasikan gagasan ini. 

Meningkatnya permintaan umat Islam untuk diterapkannya Syariah dan Khilafah dalam kehidupan menjadi pemantik digencarkannya gagasan jalan tengah atas Islam. Kesadaran umat Islam akan kerusakan masyarakat dibawah pemerintahan sekuler menjadikan pemerintah was-was. Berbagai upaya dilakukan untuk menghadang arus opini ini supaya tidak berkembang luas ke seluruh penjuru dunia. 

Selanjutnya dibuatlah label Islam radikal terhadap mereka yang berpegang teguh terhadap ajaran Islam sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Yang mengusung ide Syariah dan Khilafah dianggap teroris. Sementara pemerintah menawarkan Islam jalan tengah (wasathiyah) yang digambarkan dengan penuh perdamaian, toleransi, keramahtamahan, tidak ekstrim dan tidak radikal. Bahkan Islam jalan tengah digambarkan sebagai Islam yang menerima demokrasi, pluralisme dan nilai-nilai barat.

Penerapan Islam secara kaffah dianggap bertentangan dengan prinsip toleransi. Syariat Islam tidak cocok dilaksanakan di negeri ini karena terdapat banyak perbedaan. Baik dari sisi agama, budaya, suku, adat, dan lainnya. Sehingga untuk menghormati perbedaan tersebut, Islam harus menerima dengan cara kompromi atau jalan tengah. Agama hanya boleh mengatur hubungan manusia dengan Tuhan saja. Sementara aturan kehidupan yang harus mengikuti konsep yang ditawarkan oleh pemerintah. Supaya tidak terjadi perpecahan umat.

Padahal jelas bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan. Kebenaran Islam tampak jelas. Tidak bisa dicampuradukkan dengan kebathilan. Meski sedikit yang mengambil kebenaran itu, kebenaran tetaplah kebenaran. Sebaliknya, meski banyak pengikutnya kebathilan tetaplah jalan yang buruk. 

Katakanlah (Muhammad), tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu.” (QS. Al-Maidah:100)
Antara kebenaran dengan keburukan itu telah jelas. Allah membuat perumpamaan antara kebaikan dengan keburukan seperti air dan buih. 

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dengan yang bathil. Adapaun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya, tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan.” (Ar-Ra’d:17)

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jalan tengah bukanlah solusi untuk menyelesaikan segala persoalan yang terjadi. Karena akar masalah yang terjadi adalah tidak diterapkannya Islam secara kaffah. Islam telah memberikan solusi sempurna atas segala persoalan yang terjadi di dunia ini. Baik masalah individu, kelompok maupun negara. 

Mengambil jalan tengah sama saja menyatukan dua kutub yang berbeda. Selamanya akan bertolak belakang. Tidak akan pernah bertemu. Nyatanya, jalan tengah tak selamanya indah. Saatnya kembali kepada Islam kaffah. Tinggalkan hukum thaghut yang menyengsarakan. Wallahu a’lam bish-shawab.

  






Oleh: Alif Shaleha
           
            Trriiiingggg…bunyi bel tanda ganti pelajaran. Aku bersiap untuk masuk ke kelas 8A. Kelas yang paling sering menjadi buah bibir semua guru. Pasalnya kelas ini terdiri dari 34 siswa yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Bukan itu yang menjadikan kelas ini istimewa. Namun karena peserta didik yang ada di kelas ini sebagaian besar aktif. Bukan aktif belajar, namun aktif bolos dari pelajaran.
            Perlahan aku berjalan menuju ruang 8A yang terletak di sebelah mushola di lantai satu, tepat sebelah tangga menuju ruang Laboratorium komputer. Para siswa kelas 8A terlihat duduk-duduk di tangga. Semakin dekat aku ke kelas itu, tak sedikitpun ada niatan dari mereka yang berniat untuk masuk kelas. Hingga aku sampai di ruang kelas.
            Beberapa siswa telah siap menerima pelajaran dengan buku paket yang telah tersedia di hadapan masing-masing. satu persatu siswa memasuki ruangan. Namun ada 3 siswa yang tetap asyik di tangga tanpa peduli keberadaanku di kelasnya. Sekali lagi kutengok tangga untuk melihat ketiga siswa tersebut. Tidak ada. Mereka sengaja membolos dari pelajaranku.
            “Kenapa mereka tidak ikut pelajaran saya?” Tanyaku pada siswa yang ada. Kulihat tak ada satupun yang berusaha untuk menjelaskan. Kelas hari ini benar-benar tidak kondusif. Ada yang main panco dengan teman sebelahnya. Ada yang keluyuran, ada yang pukul-pukul meja, ada yang ngomong tak jelas, ada pula yang tidur.
            Aku merasa ini adalah kelas paling menjengkelkan yang pernah aku temui. Tidak hanya aku yang merasakannya. Namun semua guru yang masuk ke kelas ini pasti akan merasakan hal yang sama. Entahlah, apa penyebab semua itu.
            “Baiklah, silahkan buku PR-nya dikumpulkan per baris masing-masing!”
            “Tidak mengerjakan bu”, jawab salah satu siswa yang duduk di bagian paling depan.   
            “yang lain?’
            “Tidak mengerjakan juga buuuu…” jawab mereka sempak.
            “Baiklah, kalo gitu coba salah satu bacakan soalnya. Kita bahas bersama-sama!”
            “Bukunya ketinggalan Bu,…tidak tahu soalnya bu…dahlah Bu, langsung ke pelajaran selanjutnya aja.
Bersahut-sahutan mereka menjawab pertanyaanku. Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Berbagaimacam cara telah kucoba untuk menghidupkan pembelajaran di kelas ini. Bukan hanya kali ini saja, hampir setiap jam pelajaran di kelas ini aku merasa kesulitan untuk mengendalikannya.
            Pernah suatu saat aku konsultasi dengan wali kelas, guru BK dan Binsis. Namun semua solusi yang diberikan tidak ada yang bisa merubah kebiasaan mereka. Dari awal mereka masuk sekolah ini, sudah terlihat benih-benih kenakalannya. Merokok, pergaulan bebas, bolos, hingga balapan liar.
            Dengan berbagai hasil pertimbangan, kami memanggil orang tua mereka. Kami tunjukkan catatan hitam mereka selama di sekolah. Namun, apa jawaban orang tua mereka? Sungguh di luar dugaan.
            “Anak saya sudah terbiasa merokok kalo di rumah, Bu.”
            “Trus bapak bolehin?’
            “Ya, wajarlah bu. Anak cowok kalo gak merokok gak jantan. Biar dia jadi lelaki sejati bu.”
            “Tapi dia masih sekolah pak. Seharusnya dididik dengan baik. Kalo di sekolah selain suka merokok, dan membolos, anak bapak juga tidak mau diajak shalat berjamaah. Yang lebih miris lagi, dia ketahuan merokok di warung sebelah sekolah pada saat puasa. Itu artinya anak bapak tidak puasa.”  
            “Tidak apa-apa bu. Yang penting anak saya mau sekolah. Biarkan saja dia merokok, toh saya juga masih mampu kok untuk membelikannya. Gak usah terlalu ditekan bu, nanti dia gak mau sekolah lagi. Bagi saya, mau sekolah saja sudah sukur. Tidak perlu jadi juara. Yang penting ijazahnya.”
            Susah payah kutelan ludahku. Tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari orang tua murid. Ini baru satu siswa. Bagaimana dengan siswa yang lain? Padahal tidak sedikit siswa yang memiliki kelakuaan yang sama.
            Astaghfirullah…beginilah kondisi umat saat ini. Sebagai guru, aku dan teman-teman seprofesi berusaha semaksimal mungkin mendidik mereka. Tidak hanya sekadar menyampaikan materi, namun juga mendidik mereka agar menjadi anak yang saleh dan berbakti. Namun semua itu sia-sia, karena orang tua mereka justru mengajarkan sebaliknya. Tidak ada dukungan untuk mengubah generasi ini. Padahal orang tualah yang memiliki waktu lebih banyak dengan anak-anak dibanding guru. Orang tua pula yang bertanggungjawab atas anaknya. Sebagai guru pertama dan utama. Sosok guru yang nyata, yang harus memberikan contoh nyata kepada putra putrinya.