Catatan Hijrahku (Part 5)

0 Comments




Oleh: Alif Shaleha

Kebisingan jalan tidak membuatku terganggu. Hatiku gundah. Resah dan gelisah. Kucoba pejamkan mata. Berharap ketika membukanya, aku sudah sampai terminal. Namun ketika aku membuka mata, aku masih berada di dalam bus kota. Kutengok papan reklame di pinggir jalan. Kucari-cari tulisan yang menunjukkan keberadaanku. Tertulis di salah satu papan “Cirobon”. Seketika mataku terbuka sempurna. Sebentar lagi aku nyampai rumah.

Hmmm, kuhembuskan nafas kuat-kuat. Berharap beban yang menghimpit ikut menguap bersama udara pernafasan. Sekali lagi ku buang nafas, namun rasa sesak ini tidak kunjung reda. Rasanya aku belum siap untuk kembali pulang. Apa nanti yang akan dikatakan oleh orang tua dan para tetangga?
Bisakah mereka menerima perubahanku ini, mengingat saat ini berjilbab masih asing di lingkunganku. Kalo sekedar menutup aurat dengan kerudung dan pakaian serba Panjang, dengan bentuk potongan sudah biasa. Tapi kalau jilbab? Belum ada. Orang hamil yang biasanya memakainya. Hufttt….

Setelah sampai di persimpangan Widasari, aku turun dari bus dan mencari angkutan umum menuju desaku. Tempat yang penuh kenangan bersama teman-teman SMA. Kendaraan yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bismilllah, semoga Allah memudahkan segalanya.

“Nok, wis tekan!” sapa sopir angkot yang aku tumpangi. Aku turun di depan gang menuju rumahku. Detak jantungku berdegup semakin kencang. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Kukuatkan tekadku. Melangkah dan terus menyusuri jalanan sempit yang dulu selalu aku lewati ketika pulang sekolah.

Terdengar bisik-bisik dari beberapa emak-emak yang biasa kumpul di depan warung. Kuabaikan saja perkataan mereka. Meski dalam hati ingin menangis. Ternyata aku belum siap untuk menerima hujatan dan sindiran dari orang lain. Kalau hanya dikatakan beda tidak masalah. Namun jika dikatakan hamil di luar nikah? Astaghfirullah… justru aku berubah untuk menghindari maksiat. Aku berjilbab supaya terjaga kehormatanku. Tapi… ah, sudahlah.

Aku masuk ke rumah kontrakan yang selama ini kami tempati. Setelah salamku terjawab, aku menghambur kepelukan ibu. Kangen sekali rasanya. Beberapa saat kami melepas rindu. Ibuku senang melihat kedatanganku. Makanan kesukaanku telah siap di meja makan. Kamar tidurkupun telah tertata rapi dan wangi. Alhamdulillah… akhirnya aku bisa kembali ke rumah ini.

Tanpa terasa aku terlelap di pembaringan sederhana ini. Meski tidak sebagus kamar kostku, namun aku selalu merasa nyaman tidur di sini. Entah sudah berapa lama aku terlelap. Ada belaian lembut kurasakan di kepalaku. Perlahan kubuka mataku. Meski berat, dan masih ingin kembali terpejam, namun aku paksakan untuk bangun demi memenuhi panggilan ibuku.

“Sudah bangun? Ayo mandi dulu trus makan. Sudah hampir maghrib!” kata ibuku sembari menatihku berdiri. Aku mengikutinya tanpa sepatah katapun. Segala rasa gundah yang berkecamuk telah menguap entah kemana. Aku tidak lagi takut bertemu ibuku. Bukan. Tapi lupa.

Selepas maghrib, kami berbincang-bincang di depan TV. Ibuku sangat antusias mendengarkan semua ceritaku. Tak lupa menanyakan perkembangan sakitku. Hingga akhirnya apa yang aku khawatirkan selama ini meluncur juga.

“Kenapa sekarang kamu pakai baju kayak orang hamil begitu? apa kamu tidak dengar sepanjang jalan yang kamu lewati tadi orang-orang membicarakanmu. Mereka mengira kamu hamil. Apa itu benar?”

Bersambung


You may also like

Tidak ada komentar: