Catatan Hijrahku (Part 4)

0 Comments




Oleh: Alif Shaleha

Beberapa bulan aku tetap bertahan dengan dua jilbab. Hingga akhirnya aku memperoleh jilbab pemberian dari kakak seniorku. Alhamdulillah, bisa buat ganti. Aku merasa nyaman dengan jama’ah ini. Aku menjadi manusia yang berbeda dengan sebelumnya. Lebih bisa menghargai hidup. Memahami hakikat dan tujuan hidup ini. Namun, di tahun kedua aku hijrah bertepatan dengan semester 4, aku mulai mengalami sakit-sakitan. Prestasi mulai menurun. Tak seperti masa-masa sekolah dulu. kini aku lebih memilih untuk aktif di dalam dakwah daripada kuliah.

Imbasnya, aku lulus satu tahun lebih lama dari teman-teman seangkatanku. Yang lebih membuat perjuanganku terasa berat adalah sakit. Ya, aku berkali-kali masuk rumah sakit. Terdeteksi ada benjolan di payudaraku. Meski tidak diketahui apakah ganas atau jinak, namun hal itu cukup membuatku sedikit down. Hari-hariku disibukkan dengan kuliah, dakwah, dan terapi. Ternyata aku belum cukup kuat untuk menjalani ujian ini.

Teman-teman dan kakak-kakak senior selalu menyemangati. Tak henti mereka memotivasiku untuk tetap melanjutkan kuliah ini hingga selesai. Meski sakit, namun aku tetap bertahan. Kata-kata yang selalu melekat dalam ingatanku adalah: “Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kesanggupannya” itulah kalimat terindah yang selalu menjadi motivator dalam hidupku.
Aku yakin aku mampu. Aku yakin aku kuat. Mungkin Allah hendak menguji keimananku. Seberapa besar keimananku kepada-Nya. Alhamdulillah, aku sanggup menjalaninya. Ditengah kondisi yang lemah karena sakit. Aktivitas kuliah dan dakwah yang banyak, aku juga diuji dengan kesulitan ekonomi.

Keluargaku bukanlah dari golongan kaya. Berbeda dengan teman-teman satu kostku yang selalu tepat waktu dalam mendapatkan kiriman. Bisa membeli kebutuhan dengan mudah. Sedangkan aku? Kiriman yang tak tentu jumlahnya. Harus dibagi antara kebutuhan hidup, kebutuhan kuliah, transportasi dakwah, dan untuk pengobatan. Aku harus memutar otak untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Setidaknya untuk transport. Maka aku mencoba untuk membuat susu kedelai dan menjualnya.

Alhamdulillah. Bersama dengan kakak seniorku, aku memualai bisnis susu kedelai kecil-kecilan. Dari sini aku bisa mendapatkan pemasukan. Meski masih belum bisa mengcover semua kebutuhan, setidaknya ada tambahan. 

Tiba saatnya libur semester. Itu artinya aku harus pulang. Sudah beberapa semester semenjak aku mulai memakai jilbab, aku belum pernah pulang. Meski ortu selalu memintaku pulang, namun aku enggan melakukannya. Orang tuaku senang mendengar kepulanganku. Pasalnya semenjak aku berhijrah, aku tidak berani pulang. Aku takut orang tuaku tidak bisa menerima perubahanku. Aku butuh waktu untuk menyiapkan mental dan bekal ilmu untuk bertemu keluargaku. Hingga saatnya tiba.

Bersambung




You may also like

Tidak ada komentar: