Catatan Hijrahku (Part 1)

0 Comments

Oleh: Alif Shaleha

Lahir dari keluarga yang beragama Islam, tak membuatku langsung Islami. Sama halnya dengan teman-teman sebayaku, aku menjalani hari-hariku dengan sekolah, belajar, main, dan kumpul-kumpul bersama. Shalat lima waktu dikerjakan sekadarnya saja. Jika lagi rajin, maka genap 5 kali kujalani. Namun jika sudah asyik bersama teman-teman, shalat sering terlupakan.

Orang tua tak ada yang mengingatkan. Asal prestasi tak menurun, juara umum tetap di tangan, tak jadi soal meski kadang tak shalat. Pergi ke masjid? Jangan ditanya. Setiap maghrib dan isya selalu jamaah di masjid. Disambung dengan ngaji bersama. Bahkan ikut tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid (IRMABA).

Yang kuingat saat itu aku duduk di bangku SMP. Pergaulan dengan lawan jenispun tak ada batasan. Meski hanya kumpul-kumpul bersama, jalan-jalan dan semacamnya, namun sekarang aku paham bahwa perbuatan itu termasuk kamaksiatan. Nau’udzubillah.

Tiba waktu kelulusan SMP. Persiapan untuk melanjutkan SMA sudah dimulai. Aku memutuskan untuk menutup aurat. Belum sempurna. Hanya memakai pakaian serba panjang dan berkerudung. Saat itu memakai kerudung adalah hal yang istimewa. Bukan karena paham bahwa berkerudung adalah kewajiban setiap muslim. Hanya ingin saja. 

Jilbab. Saat itu aku menyebutnya demikian. Meski belakangan setelah mengkaji Islam akhirnya tahu bahwa jilbab dan kerudung tidaklah sama. Aku adalah satu-satunya gadis yang istiqamah berkerudung. Hingga akhirnya kedua orang tuaku memboyongku ke Kota. Tempat dimana kedua orang tuaku mengais rezeki. Disinilah perjalanan hijrahku dimulai. 

Bersambung 



You may also like

Tidak ada komentar: