Kewajiban Menasehati Sesama Muslim

0 Comments
Guruku Idolaku#seri 1

Dari luar kelas aku mendengar keributan dalam kelas 8c. Kelas terheboh yang yang pernah ku temukan temukan.

Namun kehebohan itu adalah hal wajar setiap memasuki jam terakhir. Mengingat kondisi siswa sudah mulai lelah. Lelah fisik dan lelah otak. Dari pagi siswa diajak berfikir. Berhitung, memecahkan permasalahan yang muncul dari soal-soal. Menganalisa dan berdiskusi.

Jam-jam terakhir biasanya pelajaran sudah tidak kondusif. Para siswa mulai mengantuk, berisik dan hiperaktif. Setiap guru yang mengajar pada jam terakhir harus mampu memutar otak untuk mencari metode belajar yang efektif. Supaya siswa tidak ngantuk dan pelajaran bisa ditangkap siswa.

Baru saja mau duduk, terdengar aduan seorang siswi yang diganggu teman lelakinya.

"Bu, ini lo Anto jahil bu! Karudung saya ditarik-tarik..." teriak Eni sambil melotot ke arah Anto.
"Biarin aja Bu, salahnya sendiri pake kerudung kok rambutnya keluar. Kan gak syar'i to Bu? Harusnya pake kerudung tuh kayak Bu Heni, besar dan menutup semua bagian kepala" sahut Anto sambil menarik ujung belakang kerudung Eni.

Hhh....aku menarik nafas panjang. Sambil memandang satu persatu siswa yang ada sebelum menimpali. 'Selalu seperti ini' batinku. 'Berilah aku kesabaran dalam mendidik mereka Yaa Allah' do'aku dalam hati. Sejenak kemudian aku berdiri dan mendekati merereka berdua. Sementara siswa yang lain mangalihkan pandangannya padaku.

Penasaran dengan apa yang akan kulakukan. Aku selalu menganggap anak didikku seperti anakku. Saat di sekolah meraka akan jadi tanghung jawabku. Karena mereka adalah aset negara. Yang akan memperjuangkan aturan Islam kelak. Menghukum siswa bukanlah gayaku. Apalagi dengan hukuman fisik.
Apalagi dengan menyanyikan lagu 'bebek adus kali.' Gak nyambung.

Berbeda dengan guru yang lain. Biasanya jika guru lain yang mengajar, siswa siswi yang jahil akan dipanggil kedepan dan diberi hukuman.
"Eni, kamu tahu kenapa perempuan harus menutup aurat?"
"Karena Allah memerintahkan Bu." jawab Eni dengan heran. Ia memposisikan dirinya dengan nyaman. Sementara Anto yang di belakangya hanya cengar cengir. Sambil sesekali mengumpat, "rasain lo, emang enak?"

"Setiap perempuan yang sudah baligh, wajib baginya menutup auratnya. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Karena semua tubuh perempuan adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan. Jadi rambut juga aurat kan? Meski hanya sehelai, jika rambutmu nampak dan dilihat oleh lawan jenis yang bukan muhrim maka dosa bagimu!"

"Tuh, dengerin. Mentang-mentang rambutnya direbonding jadi sengaja gak ditutup semua. Biar semua tau ya kalo rambut kamu bagus?" cibir Anto masih terus memojokkan Eni.

Dengan tampag kesal, Eni melirik Anto dari ekor matanya. Kemudian mengambil ikat rambut dari dalam tasnya dan mengikat rambutnya agar tidak terlihat.

"Bu, itu anak-anak sekolah sebelah kok dibiarkan saja bu gak pake kerudung. Padahal mereka kan sudah baligh juga bu. Malah pakaiannya seksi dan memakai lipstik. Itu tarabuj kan bu?" kata Tino yang sedari tadi sudah gatel ingin urun rembug.

"Tabarujjj...Tinoooo, bukan tarabuj!" teriak anak satu kelas dengan kesal. "Gak usah sok yess deh Tin, kalo gak ngerti mah diem aja. Malu-maluin 8c aja." kata Sukma sambil melotot memandangi Tino. Pasalnya Tino sering kali nyeletuk dengan ucapan-ucapan gaje-nya.

"Alah, salah dikit doang. Yang penting kan maksudnya sama. Ya kan bu?" Tino masih gak mau kalah. Mencari pembenaran sambil cengengesan gak jelas.

Aku hanya tersenyum menanggapi tingkah polah mereka. Dalam hati bersyukur, karena Allah mberiku kesempatan untuk mengajar. Berbagi ilmu dengan anak-anak. Sehingga aku bisa merasakan perjuangan para guru yang telah mencerdaskan anak-anak bangsa.

Kelas yang biasanya loyo saat jam terakhir jadi hidup karena diskusi itu.

"Sebenarnya perintah menutup aurat itu wajib bagi setiap muslimah. Hanya saja tidak semua muslimah mau menjalankan seruan dari Allah untuk menjalankan kewajiban itu. Ditambah lagi tidak adanya sanksi yang tegas bagi mereka yang tidak menutup aurat. Sistem yang diterapkan pemerintahpun juga tidak mendukung untuk itu. Padahal seharusnya pemerintah sebagai penerap hukum mewajibkan semua warganya untuk menerapkan hukum syara'. Tidak hanya masalah aurat saja. Tapi semua hal harus diatur."
"Jadi, kalo sekolah membiarkan siswanya untuk tidak menutup aurat kena dosa dong Bu!"
"Betul. Semua ikut dosa. Ya sekolahnya, yang pemerintahnya, ya Kepala Sekolahnya, gurunya, dan siswanya itu sendiri." jawabku sambil berjalan mendekati para siswa. Sudah jadi kebiasaanku jika mengajar selalu berkeliling kelas. Untuk membangun kedekatan emosional dengan para siswa.  Dengan sabar aku menjelaskan pertanyaan siswanya.
"Waduh. Berarti kalo ada temen kita yang keluar rumah tanpa memakai kerudung kita ikut dosa dong Bu?" tanya Andi sambil bergidik ngeri.
"Yup. Karena kewajiban bagi yang lain jika melihat saudaranya melakukan maksiat, adalah menasehati. Bukan malah membully." sesekali aku melirik Anto dari balik kaca mata minusku yang dari tadi masih krasak krusuk mengganggu Eni.

Seketika Anto dan yang lainnya bungkam. Betapa ngerinya jika selama ini saudara, tetangga, dan temannya banyak yang belum menutup aurat. Dalam benak mereka membayangkan banyaknya dosa karena mendiamkan tindakan maksiat.

"Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." 

"Astaghfirullahal 'adziim...,serempak semua siswa beristighfar. Karena menyadari selama ini seringembiarkan kemaksiatan di depan mata.
"Ya sudah. Sekarang kita lanjutkan pelajaran yang kemaren ya..." kata Bu Heni sambil berjalan menuju papan tulis.

Para siswa yang tadinya sudah lesu, kini mulai semangat lagi. Hilang sudah rasa kantuk dan malas yang sebelumnya bergelayut manja di mata mereka. Dengan antusias, para siswa mengikuti pelajaran hingga akhir.


You may also like

Tidak ada komentar: