Yang Penting Sekolah

0 Comments



Oleh: Alif Shaleha
           
            Trriiiingggg…bunyi bel tanda ganti pelajaran. Aku bersiap untuk masuk ke kelas 8A. Kelas yang paling sering menjadi buah bibir semua guru. Pasalnya kelas ini terdiri dari 34 siswa yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Bukan itu yang menjadikan kelas ini istimewa. Namun karena peserta didik yang ada di kelas ini sebagaian besar aktif. Bukan aktif belajar, namun aktif bolos dari pelajaran.
            Perlahan aku berjalan menuju ruang 8A yang terletak di sebelah mushola di lantai satu, tepat sebelah tangga menuju ruang Laboratorium komputer. Para siswa kelas 8A terlihat duduk-duduk di tangga. Semakin dekat aku ke kelas itu, tak sedikitpun ada niatan dari mereka yang berniat untuk masuk kelas. Hingga aku sampai di ruang kelas.
            Beberapa siswa telah siap menerima pelajaran dengan buku paket yang telah tersedia di hadapan masing-masing. satu persatu siswa memasuki ruangan. Namun ada 3 siswa yang tetap asyik di tangga tanpa peduli keberadaanku di kelasnya. Sekali lagi kutengok tangga untuk melihat ketiga siswa tersebut. Tidak ada. Mereka sengaja membolos dari pelajaranku.
            “Kenapa mereka tidak ikut pelajaran saya?” Tanyaku pada siswa yang ada. Kulihat tak ada satupun yang berusaha untuk menjelaskan. Kelas hari ini benar-benar tidak kondusif. Ada yang main panco dengan teman sebelahnya. Ada yang keluyuran, ada yang pukul-pukul meja, ada yang ngomong tak jelas, ada pula yang tidur.
            Aku merasa ini adalah kelas paling menjengkelkan yang pernah aku temui. Tidak hanya aku yang merasakannya. Namun semua guru yang masuk ke kelas ini pasti akan merasakan hal yang sama. Entahlah, apa penyebab semua itu.
            “Baiklah, silahkan buku PR-nya dikumpulkan per baris masing-masing!”
            “Tidak mengerjakan bu”, jawab salah satu siswa yang duduk di bagian paling depan.   
            “yang lain?’
            “Tidak mengerjakan juga buuuu…” jawab mereka sempak.
            “Baiklah, kalo gitu coba salah satu bacakan soalnya. Kita bahas bersama-sama!”
            “Bukunya ketinggalan Bu,…tidak tahu soalnya bu…dahlah Bu, langsung ke pelajaran selanjutnya aja.
Bersahut-sahutan mereka menjawab pertanyaanku. Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Berbagaimacam cara telah kucoba untuk menghidupkan pembelajaran di kelas ini. Bukan hanya kali ini saja, hampir setiap jam pelajaran di kelas ini aku merasa kesulitan untuk mengendalikannya.
            Pernah suatu saat aku konsultasi dengan wali kelas, guru BK dan Binsis. Namun semua solusi yang diberikan tidak ada yang bisa merubah kebiasaan mereka. Dari awal mereka masuk sekolah ini, sudah terlihat benih-benih kenakalannya. Merokok, pergaulan bebas, bolos, hingga balapan liar.
            Dengan berbagai hasil pertimbangan, kami memanggil orang tua mereka. Kami tunjukkan catatan hitam mereka selama di sekolah. Namun, apa jawaban orang tua mereka? Sungguh di luar dugaan.
            “Anak saya sudah terbiasa merokok kalo di rumah, Bu.”
            “Trus bapak bolehin?’
            “Ya, wajarlah bu. Anak cowok kalo gak merokok gak jantan. Biar dia jadi lelaki sejati bu.”
            “Tapi dia masih sekolah pak. Seharusnya dididik dengan baik. Kalo di sekolah selain suka merokok, dan membolos, anak bapak juga tidak mau diajak shalat berjamaah. Yang lebih miris lagi, dia ketahuan merokok di warung sebelah sekolah pada saat puasa. Itu artinya anak bapak tidak puasa.”  
            “Tidak apa-apa bu. Yang penting anak saya mau sekolah. Biarkan saja dia merokok, toh saya juga masih mampu kok untuk membelikannya. Gak usah terlalu ditekan bu, nanti dia gak mau sekolah lagi. Bagi saya, mau sekolah saja sudah sukur. Tidak perlu jadi juara. Yang penting ijazahnya.”
            Susah payah kutelan ludahku. Tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu dari orang tua murid. Ini baru satu siswa. Bagaimana dengan siswa yang lain? Padahal tidak sedikit siswa yang memiliki kelakuaan yang sama.
            Astaghfirullah…beginilah kondisi umat saat ini. Sebagai guru, aku dan teman-teman seprofesi berusaha semaksimal mungkin mendidik mereka. Tidak hanya sekadar menyampaikan materi, namun juga mendidik mereka agar menjadi anak yang saleh dan berbakti. Namun semua itu sia-sia, karena orang tua mereka justru mengajarkan sebaliknya. Tidak ada dukungan untuk mengubah generasi ini. Padahal orang tualah yang memiliki waktu lebih banyak dengan anak-anak dibanding guru. Orang tua pula yang bertanggungjawab atas anaknya. Sebagai guru pertama dan utama. Sosok guru yang nyata, yang harus memberikan contoh nyata kepada putra putrinya.



You may also like

Tidak ada komentar: